Pengobatan Baru Hindari Penderita Kanker Payudara dari Kemoterapi

 

 

 

 

kanker-payudara-kemoterapiREPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Selama ini, penderita kanker payudara harus menjalani kemoterapi. Namun, sekarang kemoterapi bisa dihindari karena National Health Service (NHS) Inggris baru saja menemukan pengobatan baru yang tidak memerlukan kemoterapi.

Dilansir dari the Guardian, Kamis (26/9), langkah pertama dalam pengobatan kanker payudara ini adalah operasi untuk mengeluarkan tumor. Kemoterapi hanya dilanjutkan jika dokter yakin risiko kanker pada pasien tersebut kembali tumbuh.

Sayangnya, kemoterapi juga memiliki sifat racun yang bisa menyebabkan mual, muntah, insomnia, rambut rontok, dan kelelahan.

Seorang Ahli Bedah Payudara di Hywel Dda, Simon Holt mengatakan, separuh wanita di Wales, Inggris Raya bisa menghindari kemoterapi untuk menyembuhkan kanker payudaranya secara total tanpa khawatir kanker itu akan kembali. National Institute for Health and Clinical Excellence (Nice) sudah menemukan formula tes baru yang lebih akurat.

"Pasien kanker payudara secara emosional dan psikologis bakal tegang ketika mendengar kata kemoterapi. Kami memiliki sebuah tes yang dapat membantu dokter memprediksi lebih baik risiko penyebaran kanker payudaranya. Ini mungkin bermanfaat sehingga kemoterapi tidak selalu menjadi langkah lanjutan untuk pasien," ujar Direktur Nice, Carole Longson.

Nice mendata sebanyak 15 studi dari enam ribu pasien kanker payudara di seluruh dunia menjalani kemoterapi. Setelah diuji coba dengan tes terbaru NHS dan Nice, sepertiga dari pasien tersebut sebetulnya tidak memerlukan langkah kemoterapi.

Survei dari Breast Cancer Care mengatakan kebanyakan penderita kanker payudara yang menjalani kemoterapi di Inggris memiliki dampak jangka panjang yang negatif pada psikologisnya. Beberapa mengatakan itu memengaruhi kehidupan seks mereka.

Dalam jajak pendapat itu, 72 persen dari 600 responden mengaku telah meninggalkan pasangannya karena kurang percaya diri dengan tubuh mereka. Sebanyak 52 persennya mengaku tidak nyaman berpakaian mini di depan pasangan mereka. Sedangkan 64 persen dari mereka yang lajang mengatakan mereka tidak percaya diri untuk membina sebuah hubungan.

Sumber: berita.plasa.msn.com